Kamis, 08 Mei 2014

Mengapa Harus Ada Perpisahan.



Mengapa Harus Ada Perpisahan?
Awal aku mengenalnya, aku tidak ada rasa apapun dengannya, bahkan akupun tidak tahu kalau dia adalah kakak kelasku sewaktu aku di MTs. Pagi itu, handphone ku bergetar, menandakan ada sms yang masuk.
“Assalamualaikum, sinta” itu isi sms nya
“waalaikumsalam, ini siapa ya?” Tanya ku
“Ini dedy, kakak kelas kamu waktu di MTs, inget gak?” ucapnya
“Hmmm… aku lupa ka”
“Inget gak waktu ada acara maulid, dan penutupannya itu di isi sama penampilan band. Itu yang main drum nya kakak. Inget ga sin?
“oh, ia ka aku inget”
Singkat cerita, aku dan dia semakin sering sms-an, dan hubungan kami sebagai teman semakin akrab. Cukup lama aku mengenalnya lewat sms, dan akhirnya kami pun bertemu, dan pada saat itu belum ada sedikitpun rasa yang ada di hatiku.
Setelah itu, kami semakin sering bertemu dan jalan bersama. Dan entah apa yang kurasa, aku merasakan sebuah rasa yang kini ku rasakan. Ya, rasa cinta mulai tumbuh bersemi di hatiku. Selama aku kenal dengan ka dedy, aku memerhatikan sikap dan perilakunya. Dia adalah pria yang dewasa, sopan, baik hati, dan juga lumayan tampan wajahnya menurutku. Yaaa, cowok idaman aku banget lah, beda sama laki-laki yang ku kenal sebelumnya.
Saat aku sedang sakit, tanpa ku duga dia datang ke rumah untuk menjenguk ku. Waaah bahagianya diriku di jenguk sama orang yang aku suka
“Assalamualaikum” ucapnya memberi salam
“Waalaikumsalam, siapa ya?” Tanya mamaku yang menerima tamu
“Saya dedy bu, temannya sinta. Saya mau menjenguk dia bu, sintanya ada?” Tanyanya sambil mencium tangan mama ku
“Oh ia ada tuh di dalem, masuk” ucap mama ku mempersilahkan masuk.
Ka dedy menghampiriku yang sedang berbaring di ruang TV, sambil menonton sinetron.
“Sin, gimana keadaannya?” tanyanya
“Masih sama ka kaya tadi, badan aku masih panas, gk bisa bangun soalnya pusing” jawabku
“udah makan sama minum obat belom sin?” Tanya nya penuh perhatian
“udah ko’ ka tadi” jawabku tersenyum
Setelah kami mengobrol, dia mengatakan sesuatu yang tak pernah ku duga. Ya, dia mengatakan rasa sayangnya pada ku.
“Sin,  Sebenernya di balik pertemanan kita, kaka punya rasa yang lain sin”
“Rasa apa ka? Coklat? Hehe” ucapku sambil bergurau
“Kaka sayang sama kamu sin, kaka serius. Sebenernya pengen dari kemaren ngomongnya, tapi gak enak kalo lewat sms. Sekarang mumpung lagi ada waktu, kaka bilang ke kamu”
“Hmmm….” Hanya itu yang bisa ku katakana dengan wajah mulai memerah
“Kamu mau gak sin jadi pacar kaka? Kaka janji bakal jadiin kamu untuk yang terakhir” ucapnya meyakinkan ku
“Jujur ka, aku juga punya rasa kaya kaka”
“Yaudah sin, gimana? Mau terima kaka gk sin?" Tanya nya lagi
“Hmmm. Ia ka aku mau” jawabku dengan malu-malu
Dan mulai hari itu, tepatnya tanggal 11-12-13 kami berstatus pacaran.
Hubungan kami telah memasuki bulan ke tiga. Semua suka duka, manis pahit, berantem, tertawa, telah berhasil ku lalui bersama ka dedy.
Di bulan yang ke tiga ini, aku merasakan hal yang beda dengannya, perhatiannya jauh berkurang. Ya aku masih bisa menerimanya, karena sedikit lagi dia akan menghadapi UN. Setelah UN berlalu, dia pun masih saja cuek.
Saking kesalnya, aku langsung saja menanyakannya
“Ka, kaka kenapa jadi cuek gini sih? Jujur ka” Tanya ku
“Ga knapa-knapa sin, biasa aja” hanya itu yang dia ucapkan
Selang beberapa minggu, kami telah memasuki hari jadi yang ke empat. Aneh rasanya, biasanya dia selalu mengucapkan “happy annive”, tapi sekarang hp ku sepih gak ada sms dari ka dedy.
Ku coba untuk menunggu, sampai tiba puku 10 siang. Tidak ada satupun sms yang masuk darinya. Segera saja aku sms dia untuk mengucapkan annive, mungkin dia sedang mengetesku ingat atau tidaknya hari jadi
“Happy annive ya ka, semoga hubungan kita langgeng, dan janji kaka buat ngejadiin aku yang terakhir dapat terwujud” itu ucapanku seperti yang ia katakana pada annive sebelumnya
“Ia sin, amin” hanya itu jawabannya
“Dan semoga sifat kaka kaya dulu lagi ya ” ucapku menambahkan
Tidak ada balasan sms lagi darinya.
Sudah sangat sabar aku menghadapi sikapnya yang berubah total. Hubungan kami tetap berjalan, hingga tanggal 24 april. Dan saat ini kesabaran ku sudah benar-benar habis. Segera saja aku ngomong dengan ka dedy
“Ka, kenapa kaka jadi berubah total ini sih? Kalo udah gk ada rasa bilang ka, jangan kaya gini!” ucapku kesal.
“Kaka lagi sibuk sin nyari kerjaan” jawabnya
“Sesibuk-sibuknya kaka jangan ampe cuek gitu ka! Aku juga perlu kaka perhatiin!”
“bersikap dewasa dikit dong sin”
“Aku udah bersikap dewasa, aku udah cukup sabar ngadepin sikap kaka. Tapi kakanya yang kebangetan!”
“Tau gitu kaka dari awal milih vidya sin, bukan kamu!” ucapnya dengan tega
Memang Vidya lah yang telah mengenaliku dengan ka Dedy, hingga kami berpacaran.
“Tega banget kaka ngomong kaya gitu, aku punya perasaan ka. Hargain dikit ke’ perasaan aku!” ucapku sambil meneteskan air mata
“Ia sin kaka salah milih kamu, seharusnya kaka milih Vidya. Vidya kan yang suka sama kaka dari awal, bukan kamu”
“Tega banget ka ngomong kaya gitu, jahat lu ka!” lagi-lagi aku meneteskan air mata
“Yaudah lah sin, mending kita jalanin masing-masing aja. Anggap aja kaka sebagai kaka kamu sendiri”
“Gk bakalan bisa ka, aku sayang banget sama kaka :’(, kenapa mesti putus ka? Mana janji kaka awal kita pacaran? Kaka mau ngejadiin aku yang terakhir. Mana ka mana buktinya? Apa ini buktinya? Apa ini yang namanya bersikap dewasa?" ucapku dengan air mata di pipi
“Yaudah sin, silahturahmi gk mungkin putus. Keluarga kamu udah kaka anggap keluarga kaka sendiri. Dan kamu kaka anggep adek kaka”
“Jahat lu ka! Lu sama aja kaya laki-laki laen! Omongan lu jambu ka, janji busuk!” ucapku kesal
Di tanggal 24 april inilah hubungan kami berakhir, berakhir dengan air mata di pipiku. Rasa sayang ku selama ini hanya di balas dengan perkataannya yang membuatku sakit hati.
“Ya Allah, kenapa harus ada perpisahan di hubungan ku ini ya allah? Aku udah sayang padanya” ucapku setiap kali ku berdoa.
Setelah putus, aku jadi tidak bersemangat untuk melalukan apapun, sampai makan pun aku lupa. Saat aku di sekolah, aku kembali mengingatnya. Bagaimana aku bisa lupa begitu saja? Dia yang telah banyak mengajarkanku arti kedewasaan, dia juga yang telah mengajariku agar jangan lupa sholat.
Tanpa ku sadari, air mata pun kembali membasahi pipiku. Salah satu temanku melihat ku menangis dan bertanya pada ku
“sin lu kenapa? Ko’ nangis? Ayo sin curhat aja sama gue” Tanya sabil
“Gue putus bil sama dedy, padahal gue udah sayang banget sama dia” jawabku sambil menangis
“Ya allah sin, ko’ bisa sih?” Tanya nya penasaran
“Ga tau dah bil, bingung. Gak semangat bil gue buat ngapa-ngapain” jawabku
“udah ya sin sabar, cowo bukan Cuma dia doang ko’. Semoga lu dapet yang lebih dari dedy. Jangan patah semangat karna cowo sin, udah jangan nangis” sabil menasihatiku sambil menghapus air mataku
“Udah ya sin, lu harus move on ya sin. Semangat!” ucap sabil menyemangatiku
“Ia bil, makasih ya udah ngasih support buat gue
Mulai sekarang, aku akan lebih waspada dalam memilih cinta, dan kejadian ini akan ku jadikan pelajaran yang sangat berharga. Ada satu kata yang membuat ku semangat lagi “Jangan patah semangat karna putus cinta”. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa.


Terimakasih ini karya temanku..
Yasinta Febriani
@yasintafebriani
X.1 
MAN 22 Jakarta 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar