“SEMANGAATTTT!!!!!”
Teriak ku pada diri ku sendiri di pagi yang cerah ini. “Ayo ayo kamu pasti bisa
melewati senior galak seperti mereka. FIGHTINGG!!!!”. Teriak ku sekali lagi
pada diri ku yang sedang berada di depan cermin sambil merapihkan penampilan ku
yang memakai banyak atribut. Sejujurnya aku takut, bukan takut apa-apa, tapi aku
takut dipermalukan didepan seluruh calon mahasiswa. Ya, aku sedang mengikuti
ospek di Universitas Trisakti. Universitas swasta yang cukup mahal adalah
pilihan ku setelah lulus dari SMA. Selagi itu, di Universitas itu juga ada kakak perempuan
dan kakak laki-laki ku yang menjadi panitia ospek tahun ini mungkin kalian tahu
apa penyebab aku takut saat di ospek kali ini. Aku takut dikerjai oleh kakak kandung
ku sendiri. Aku itu sebenarnya tipe gadis yang diam dan cuek dan juga tipe yang
periang saat di ospek olehnya di SMP dan SMA, aku tak pernah kena oleh kejailan
kakak kelas ku waktu itu. Tapi kali ini aku benar-benar khawatir karena yang
meng-ospek ku adalah kakak kandung ku sendiri. Karena aku sudah tahu sifat
kakak-kakak ku selama ini dirumah yang selalu menjahili ku.
Tak
terasa waktu sudah pukul 6 pagi dan aku masih sangat asik dengan pikiran ku
sendiri di depan cermin . “Saraaaa, ayo cepat turun, sarapan dulu. Nanti kamu
telat nak!!”. Teriak mama dari ruang makan. “Iya mah, aku turun”. Ucap ku
sambil berjalan menuruni tangga. “Loh, papa, kak Sika sama kak Lingga gak ikut
sarapan mah??.” Tanya ku pada mamanya yang sedang mengoleskan selai kacang kesukaan
ku ke roti. “Kakak kamu sudah jalan sama papa jam 5 subuh tadi. Jadi nanti kamu
naik ojek aja ya”. Kata mama sambil memberikan roti pada ku. “Kenapa kakak sama
papa pagi banget berangkatnya mah??”. Tanya ku lagi, karena aku masih penasaran
dengan keberangkatan kedua kakak ku sepagi itu. “Papa lagi ada klien di kantornya sayang, kalau kakak kamu katanya mereka ada rapat. Tapi mama tidak tahu mereka
rapat apa, mereka tadi buru-buru banget. “Jawab mama. “Ooohh….”. Aku hanya ber-oh-ria.
Tapi di dalam hati ku, aku masih khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti,
dan semoga aku beruntung hari ini. “Kamu cepet dong makannya sayang, jangan
kebanyakan melamun. Kesian tuh pak Lana udah nungguin kamu dari jam 6”. Kata mama
yang melihat aku diam, tidak memakan rotinya. “Eh, iya mah. Aku makan dijalan
aja deh mah. Aku berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum” ucap ku sambil mencium
tangan mama dan pergi. “Iya, Wa’alaikum sallam. Hati-hati ya nak.” Aku menoleh
dan melambaikan tangan pada mama sambil tersenyum.
Sesampainya
di tujuan aku turun dari ojek dan mengucapkan terima kasih kepada pak Lana. Aku
berjalan sambil melihat sekitar. Aku berdecak kagum, universitas ini sungguh luas
dan bersih, banyak pepohonan juga yang tersusun rapi. Saat aku berjalan
tiba-tiba,
BBRRUUKK!!
Aku
menabrak seseorang. Dan atribut yang
dibawa orang itu jatuh. Tapi aku masih bisa benafas lega yang aku tabrak
bukanlah senior, melainkan calon mahasiswa juga. Sama seperti ku. “Eh, maaf.” ucap ku spontan. Bukannya menjawab orang itu malah mengabaikan ku dan terus
pergi. “Huh.. jutek banget sih.” Guman ku sendiri. Saat aku berjalan-jalan
disekitar kampus, aku menemukan toilet dan aku masuk untuk merapihkan
penampilan ku agar tidak berantakan, dengan bando berbentuk telinga kelinci dan
ramput di kepang dua. Saat aku sedang merapihkan penampilannya ada dua
mahasiswi masuk toilet bersamaan. Dan aku tidak sengaja mendengar percakapan
mereka berdua. “Eh, tadi kamu liat gak, calon mahasiswa disini.” Tanya mahasiswi yang berambut pirang “Yang mana?.” Jawab mahasiswi yang berambut hitam pendek, sambil becermin. “Yang aku senyumin tadi
loh.” “Cewe/cowo?.” “Cowo, lah. Ngapain aku senyumin cewe.” Jawab mahasiswi berambut pirang.
“Ciri-cirinya?.” “Agak kurus, tinggi, imut, putih, gigi kelinci. Terus apalagi
ya?? Ehhmmm.. pokoknya lumayan lah.” Jawab mahasiswi berambut pirang. “Oh, memangnya dia
kenapa?.” Tanya mahasiswi berambut hitam pendek. “Tadi kan aku senyumin dia terus dia langsung
buang muka gitu aja. Padahal keliatannya dia ramah, mukanya gak ada
dingin-dinginya. Eh dia malah buang muka gitu aja.” Jawab mahasiswi yang berambut pirang dengan panjang
lebar. “Mungkin dia gak tahu cara tersenyum kali ya, Hahaha.” jawab asal oleh
mahasiswi berambut hitam pendek yang di sambung oleh tawaan mahasiswi berambut pirang sambil berjalan keluar
toilet. Mendengar percakapan tadi, aku jadi mengingat cowo yang aku tabrak
tadi. Tapi aku menggelengkan kepala ku untuk tidak berfikir yang aneh-aneh dan
berjalan keluar.
Tak
terasa selama aku sedang berjalan-jalan, aku mendengar pengumuman dari speaker
“Bagi seluruh peserta calon mahasiswa-mahasiswi harap berkumpul di halaman utama, sekali lagi bagi seluruh perserta calon mahasiswa-mahasiswi harap berkumpul di halam utama, Terima kasih.” Aku masih terdiam. Tiba-tiba ada segerombolan mahasiswa/i lari
dari arah belakang ku, saat yang lain pada berlari aku hanya terdiam sambil memikirkan apa yang membuat mereka semua berlari tapi tak lama aku mulai sadar, dan akhirnya aku baru berlari mengikuti yang lain. Aku memang sedikit lola (loading lama) dan itu
menjadi bahan ejekanku di sekolah ku dulu dan dirumah oleh kakak-kakak ku. Akhirnya semua calon
peserta mahasiswa/i sudah berkumpul semuanya di lapangan. Pertama sambuatan
dari ketua panitia dan dari wakil panitia. Aku hanya memandang kakak laki-laki
ku saja di depan dengan gaya sok cool menurut ku. Tapi bagi peserta mahasiswi
yang lainnya mereka berbisik sambil mengagumi kakak laki-laki ku. “Huh, mereka
belum tahu saja kak Lingga kalau dirumah berbeda sekali dengan disini.” Cibir
ku dalam hati.
Selesai
acara sambutan, kini mulailah saatnya acara ritual senior pada juniornya.
Apalagi kalau bukan ajang mengerjai junior sebagai balas dendam mereka pada
kejadian yang dulu. Aku disuruh mencari
daun-daunan yang berwarna hijau yang di warnai crayon di pohon jambu. Aku sudah menemukannya, tapi aku tak sampai untuk
mengambilnya. Aku sudah melompat-lompat
untuk mengambilnya tapi tak sampai juga. Tidak mungkin kan jika aku harus memanjat
pohon ini. Dan mau tidak mau dengan nekat, aku yang memakai rok harus memanjat pohon ini yang ternyata pohonnya
banyak semut. Sampai aku jatuh dan sedikit meringis kesakitan. “Aduhh.. susah
banget sih ngambilnya.” Gerutuku kesal. Tiba-tiba ada seorang yang menyodorkan
daun yang ingin aku ambil tadi. “Ini daunnya, sebenarnya daun ini sudah jatuh dari
tadi.” Kata orang itu. Aku mengambilnya
masih dengan keadaan duduk dan aku tidak bisa melihat orang itu dengan jelas
karena silau nya cahaya Matahari. “Iya terima kasih ya.” Dan orang
itu mengabaikan ku, tidak membalas ucapan ku tadi. Karena merasa di abaikan,
aku yang sedang kesal spontan berteriak “Bisa tidak membalas ucapan seseorang,
apakah itu sulit?”. Teriak ku kesal dan sedikit kencang. Ada beberapa mahasiswa/i
yang mendengar teriakan ku menoleh padanya tapi aku abaikan karena aku sedang
kesal. Seorang itu menoleh dan menjawabnya “Iya, sama-sama. Maaf mengabaikan
mu.” Jawab orang itu. Aku terkejut ketika melihat orang itu. Orang itu yang sempat aku tabrak tadi pagi dan akibat perbuatan ku tadi atribut yang di pegang oleh orang
itu jatuh. Orang itu berbalik dan melanjutkan jalannya. Aku tidak enak hati
dengan cowo itu. Dan lagi-lagi aku asik dengan pikiranku sendiri dan aku teringat
kejadian tadi pagi saat aku menabrak orang itu dan mendengar percakapan kedua mahasiswa
tadi. Entah mengapa aku selalu teringat tentang orang yang aku tabrak tadi.
Sampai aku tak sadar jika kakak senior menegur ku. “Heh, kamu kenapa melamun?
Cepat cari daunnya, kalo kamu sudah ketemu cari di pohon manga yang itu daun
yang berwarna merah, cepat”. Ujar kakak seniornya itu galak. “Hah? Iya kak”.
Jawab ku lemas.
Tak
jauh dari tempat lain. Kakak-kakak ku tertawa cekikikan melihat ku di kerjai
seperti itu. “ kakak- kakak ada ada aja ide buat ngerjain si jelek itu” kekeh kak Lingga pada kak Sika yang melihat ku
dari kejauhan. “Biarkan saja. Agar dia kuat sedikit, sekali-kali dia perlu
dikerjai sedikit. Lagi pula mama terlalu memanjakannya”. Jawab kak Sika panjang
yang di balas anggukan oleh kak Lingga. “Abis ini apalagi kak?”. Jawab kak
Lingga antusias. “Kamu bisa melihatnya nanti” jawab Sika pendek. “Oh oke kak.
Oh iya aku mau ke toilet dulu ya kak, nanti langsung ketemu di aula aja. Bye” ucap Lingga, kemudian pergi meninggalkan kak Sika.
Bererapa
lama kemudian semua murid sudah dikumpulkan di ruang aula. Ini adalah penentuan
kelompok dari semua mahasiswa/i. “Yang kakak panggilkan kedepan akan menjadi
ketua kelompok dan mencari anggotanya masing-masing. Tapi, cewe dengan cewe dan
cowo dengan cowo tidak boleh di gabung. Mengerti?”. Tegas ketua panitia di
depan. “Mengerti kak!”. Seru semua peserta mengerti. “Oke, kelompok pertama.
Muhammad Alfin. Maju!”. Perintah kakak panitia di depan. Tiba-tiba aku teringat
sesuatu ketika mendengar nama itu. Seperti pernah mendengar dan tidak asing
oleh nama itu. Aku masih asik dengan pikiranku sampai-sampai tidak sadar jika
nama ku di panggil dan aku menjadi ketua kelompok yang terkakhir. “Sara
Indriani! Cepat ke depan sekarang juga”. Bentak kakak panitia didepan karena
kesal tidak ada yang maju dari tadi. “Saya kak!”. Teriak ku spontan dan
megundang sedikit tawa peserta yang lain. “DIAMM!!, tidak ada yang lucu. Kamu,
cepat maju”. Seketika hening dan aku pun maju kedepan sambil jalan menunduk dan
meruntuki kebodohan ku sendiri.
“Kalian
yang didepan ikut kak Lina kebelakang panggung, sekarang!”. Perintah ketua
panitia. “Ayo semuanya kesini”. Ajak kak Lina. “Kalian akan kakak berikan
tugas. Tugasnya adalah kalian semua harus mengenal satu sama lain, tapi cewe
dengan cewe dan cowo dengan cowo. Di sini tidak boleh ada yang modus! Paham?”.
“Kak, maaf. Maksudnya mengenal satu sama lain itu apa ya?”. Tanya cewe berambut
sebahu yang berdiri di samping ku. “Oke, ada pertanyaan. Maksudnya kalian harus
mengenal satu sama lain dari kegiatan-kegiatan keseharian pribadi kalian.
Misalnya, kamu dan kamu”, tunjuk kak Lina pada ku dan cewe di samping ku.
“Kalian harus saling mengetahui tanggal lahir, berat badan, dan tinggi badan
satu sama lain. Itu baru contoh dan belum kakak berikan soalnya. Nanti ketika
kalian pulang baru kalian bertanya kepada kakak apa saja soalnya. Paham?”.
Jawaban kak Lina dibalas anggukan oleh kami semua. “Alfin, mengerti?”. Tanya
kak Lina dengan nada sedikit membentak kepada cowo bernama Alfin itu. “Iya,
kak”. Jawab cowo bernama Alfin itu. Dan ternyata cowo yang bernama Alfin itu
adalah cowo yang aku tabrak tadi pagi dan aku bentak tadi siang. Baiklah,
setidaknya aku bisa minta maaf dengannya karena ulah ku tadi pagi dan siang.
Ketika
semua peserta sudah pulang, para ketua kelompok mulai mencari kak Lina. Tapi
na’as orang yang di cari tidak ketemu. Apa mungkin dia bersembunyi? Semua
peserta mulai mengerutu kesal karena kak Lina yang dicari tidak menampakan
batang hidungnya. Tiba-tiba seorang cewe yang disampingku mengeluh sakit di
bagian perut. “Kamu kenapa?” Aku sedikit panik ketika melihat wajahnya agak
pucat. “Maag ku kambuh”. Katanya sambil merintih kesakitan. “Tahan ya, akan aku
carikan obat”. Dia hanya mengangguk. Aku segera berlari ke koperasi tapi na’as,
koperasi tutup. Aku berlari ke luar kampus ini berharap ada warung yang menjual
obat maag. Ketika aku masih bereda dihalaman kampus aku melihat ada cowo yang
seragamnya sama dengan yang aku pakai sekarang. Tanpa pikir panjang aku
memanggilnya. “ Hey, apakah di luar ada warung? Aku harus membeli obat untuk
sakit maag”. Tanya ku panjang lebar agar dia mengerti. Cowo itu menoleh dan
anehnya kami berdua sama-sama terkejut. Tapi kemudian dia dengan cepat menjawab
pertanyaan ku. “ Sepertinya ada ”. Jawab dia seadanya. “ Oke, terima kasih ”.
Jawab ku dengan senyum simpul. Lalu aku berbalik dan berlari dengan cepat. “
Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana? Kenapa dia mirip teman SD ku
ya?? Ah, sudah lah lupakan. Aku harus cepat “. Kata ku dalam hati.
Ketika
aku kembali semua peserta yang menjadi ketua sudah duduk rapi dan kak Lina
sudah datang. “ Kak, maaf aku tadi ke warung sebentar ”. “ Baiklah cepat duduk
“ . Ucap kak Lina gusar. Aku duduk di samping cewe yang tadi maag nya kambuh.
Kak Lina mulai memberikan kami soal. Cewe yang di samping ku tadi sudah meminum
obat yang aku berikan, dan dia mengucapkan terima kasih. Kami semua masih dalam
keadaan hening ketika kak Lina izin ke toilet sebentar. Dengan canggung aku
menegur cewe di samping ku. Sambil basa basi. “ Hey, bagaimana? Sudah lebih
baik? “. Tanya ku ramah. Dia menoleh dan tersenyum. “ Iya, sudah lebih baik.
Btw, terima kasih ya. Obat yang kamu berikan manjur sekali ”. jawabnya sambil
tersenyum. Aku terkekeh mendengar ucapannya. “ Oh, bagus lah kalo begitu. Nama kamu siapa? Aku Sara Indriani. Kamu bisa manggil Sara saja ”ucap ku padanya.
“ Nama ku Yura Yunica. Kamu bisa memanggil ku Yura ”. Jawabnya. Menurut ku dia
gadis yang cantik dengan rambut sebahu dan kulit kuning langsat nya. Aku
mengobrol panjang lebar dengan Yura. Tak lupa aku meminta nomor handphone nya
untuk tugas yang di berikan kak Lina tadi. Saat kami sedang asik mengobrol
tiba-tiba kak Lina datang dan keadaan kembali hening kembali. “ Baiklah kalian
sebentar lagi akan pulang. Tapi sebelum pulang, kakak akan memilihkan wakil
dari kelompok cowo dan kelompok cewe. Gunanya agar besok kalian lebih mudah jika ingin
mengumpulkan bisa melalui wakil. Kakak tidak akan menerima tugas kalian jika
kalian tidak mengumpulkan lewat wakil yang akan kakak tentukan ”. Semuanya
mengangguk paham. “ Oke, perwakilan dari kelompok cowo kakak memilih, Muhammad
Alfin. Dan dari kelompok cewe kakak memilih Sara Indriani “. Kata-kata kak Lina
yang terakhir sunggung mengejutkan ku. Percaya tidak percaya. Mengapa aku yang
di pilih. Aku dan Alfin saling melempar pandang. Tiba-tiba suara kak Lina
menyadarkan kami berdua. “ Ada yang ingin di tanyakan? “. Tanya kak Lina. Kami
semua diam, mungkin itu pertanda paham. “ Baiklah, kalian boleh pulang! “. Ucap
kak Lina yang langsung pergi meninggalkan kami ditaman kampus.
“
Sara. Mau pulang bareng? “. Ajak Yura pada ku. Yura juga sama seperti ku dia
belum mempunyai teman saat hari pertama ospek ini. “ Apa tidak merepotkan? “.
Jawab ku pada Yura karena merasa tak enak. “ Sudah lah, lagi pula arah rumah
kita sama kok “. Yura menarik tangan ku memasuki mobilnya. Tak lama mobil nya
berjalan. Masih dalam keadaan hening antara aku dan Yura, dan tiba-tiba dia
memulai pembicaraan. “ Oh iya. Aku mau tanya sesuatu sama kamu “. “ Mau tanya
apa? “. “ Apakah sebelumnya kamu sudah mengenal Alfin? Dari tadi aku perhatikan
dia sedang mencuri pandang dengan mu. Ya, walaupun kamu tak sadar “. Aku
terkejut mendengar perkataan Yura, seketika jantungku berdetak lebih cepat dan
ada rasa kekhawatiran dalam hati ku. “ Benarkah? Aku rasa, aku baru bertemu
dengannya tadi pagi “. Tanya ku pada Yura. “ Iya, aku dan dia satu SMA. Dan
menurut kabar-kabar dari teman ku dia sangat cuek terhadap cewe. Tapi sejak aku
perhatikan dia, menolong mu tadi siang dan dia juga memperhatikan mu saat kak
Lina memberikan kita tugas tadi. Aku kira kau mengenalnya “. Aku benar-benar
terkejut sekarang mendengar perkataan Yura. Dan dia tahu soal kejadian tadi
siang? “ Ya Allah ini sungguh memalukan ”. Runtuk ku dalam hati. Aku hanya bisa
membalas Yura dengan senyuman tanpa dosa.
Tak
terasa aku sudah sampai rumah. Aku turun dan mengucapkan terima kasih kepada
Yura. Aku memasuki rumah, dan melihat kedua kakak ku sedang berada diruang TV.
“ Assalamu’alaikum “. Salam ku pada mereka. “ Wa’alaikum sallam “. Jawab mereka
serempak. “ Sara kamu sudah pulang? Ayo cepat mandi lalu makan malam ya. Mama
sudah memasakan makanan kesukaan kamu “. Kata mama yang melihat keadaan ku yang
sedikit berantakan dan bau keringat. Aku bergegas masuk kamar lalu mandi.
Saat
aku sedang menyisir rambut tiba-tiba aku teringat perkataan Yura tadi. Apa aku
pernah bertemu dengan Alfin? Tapi sepertinya tidak. Apa aku pernah bertemu
dengan nya tapi aku lupa? Ah, lebih bik aku tanya kakak ku saja siapa tahu
mereka tahu. Kata ku yang berbicara dengan diriku sendiri.
Setelah
seusai makan aku pergi ke kamar kak Sika untuk bertanya megenai Alfin. Siapa
tahu kak Sika tahu. Kata ku pada diri ku sendiri. “ Kak Sika aku masuk ya? “
kata ku membuka pintu kamarnya dan masuk ke kamar kakakku yang bernuansa
putih itu. Tanpa basa basi aku langsung bertanya ke intinya. “ Kak, kakak kenal
Muhammad Alfin gak? ”. “ Hah? “ Kak Sika menoleh pada ku dengan raut muka
sedikit terkejut. “ Sebaiknya kamu tanya dengan Lingga saja, dia yang
mengusulkan kamu sama Alfin menjadi ketua kelompok dan wakil dari masing-masing
kelompok cowo dan cewe “. Jawab kak Sika. Aku benar-bernar terkejut. Benar
firasat ku aku pasti kena oleh kakak ku. Akhirnya aku keluar dari kamar kak
Sika dan berjalan ke arah kamar kak Lingga. Aku masih tak habis pikir, mengapa
kak Lingga memilih ku dan Alfin menjadi ketua ? ini benar –benar tak masuk
akal. Aku mengetuk kamar kak Lingga lalu membuka nya. Aku melihat kak Lingga sedang
berkutat denga komputernya. “ Kak Lingga! “. Panggil ku yang mengejutkannya. “
Heh, kamu. Ada apa? “ . kata kak Lingga dengan senyum manis. Aku heran melihat
sifatnya yang berbeda. Aku semakin curiga dengan kak Lingga. “ Tidak. Aku hanya
mau bertanya tentang anak yang bernama Alfin, kakak mengenalnya? “. Tanya ku to
the point. Kak Lingga langsung tersenyum lebar mendengar pertanyaan ku dan
kemudian dia berjalan ke lemarinya dan mengambil sebuah album foto. Aku
benar-benar bingung dengan tingkah kak Lingga sekarang. Masih hening diantara
kita berdua. Dan kak Lingga tiba-tiba membuka album foto. Aku semakin bingung
dengan tingkah aneh kak Lingga. Tiba-tiba kak Lingga menyodorkan sebuah foto
pada ku. “ Kamu tahu foto siapa ini? “ tanya kak Lingga. Aku menggelengkan
kepala ku. Lalu aku memehartikan foto siapa itu. Aku benar-benar tak tahu. “
Itu adalah foto kamu dan Alfin! “ jawab kak Lingga. Aku terkejut ketika kak
Lingga berkata seperti itu. Aku? Alfin? Bagaimana mungkin ini terjadi? Bahkan
aku tak pernah mengingat masa kecil ku. “ Sebenarnya kamu dan Alfin adalah
teman semasa kecil. Waktu itu kalian sangat akrab sekali. Sampai akhirnya
ke-akraban kalian terpisah karena kamu mengalami kecelakaan cukup parah yang
mengakibatkan kamu amnesia. Kamu benar-benar tak bisa mengingat siapapun. Kamu
bagaikan bayi yang baru lahir yang belum tahu apa-apa “. Cerita kak Lingga pada
ku. “ Bahkan kami, keluarga kamu sendiri. Butuh waktu berbulan-bulan untuk
memperkenalkan diri kepada kamu. Dan pada akhirnya Alfin dan keluarga nya
datang untuk menjenguk mu. Tapi kamu malah mengacuhkan Alfin, seperti Alfin
menjadi orang asing untuk kamu. Alfin begitu sedih karena sahabat terdekatnya
sekaligus cinta pertamanya mengacuhkannya “. Aku shock ketika kak Lingga
bercerita seperti itu. Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Jantung ku
berdetak kencang dan mata ku mulai berkaca-kaca. Aku mencoba terus mengingat
tapi nihil. Aku tidak bisa mengingatnya. “ Padahal saat hari itu adalah hari
terakhir Alfin berada di Jakarta dan dia akan pergi ke Jepang, karena ayahnya
ada pekerjaan disana. Saat Alfin ingin pergi dia menitipkan surat pada kakak
dan dia mengatakan ‘ kak, berikan surat ini kepada Sara jika dia sudah
mengingatku ‘. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat kakak memberikan surat
ini pada kamu “. Jelas kak Lingga pada ku aku hanya diam. Entah apa yang aku
fikirkan. Rasanya aku ingin mengangis detik itu juga. Tapi aku langsung
tersenyum dan mengambil surat yang Alfin berikan pada ku melalui kak Lingga. “
Makasih ya kak “. Kata ku pada kak Lingga yang dibalas senyuman oleh.
Ketika
aku membuka suratnya yang sudah sedikit menguning dan tinta bulpoint yang
sedikit memudar. Tapi masih terbaca jelas oleh ku.
‘
Jakarta, 20 Agustus 2007
Dear
Sara Indriani. My First Love
Sara,
aku harap ketika kamu mebaca surat ini aku harap kamu sudah mengenali ku
kembali. Aku begitu terpukul ketika mendengar kabar, kalau kamu kecelakaan dan
mengalami lupa ingatan yang parah. Dan yang membuat ku sedih, kamu tidak
mengingat siapa aku. Aku benar-benar sedih. Padahal hari itu adalah hari
perpisahan kita yang lumayan panjang. Aku akan pergi ke Jepang karena ayah ku
ada tugas dinas disana. Dan aku berharap bisa bertemu dengan mu lagi suatu saat
nanti. Entah kapan.
Muhammad
Alfin’
Aku
benar-benar tak bisa berkata apa-apa ketika membaca suratnya. Aku harus meminta
maaf dengannya. Aku sudah terlalu membuatnya sedih selama ini.
Esoknya dikampus aku langsung
mencari Alfin. Aku harus berbicara dengannya. Aku berlari keliling kampus untuk
mencarinnya. Akhirnya aku menemukannya dia sedang berada di bawah pohon maple
di taman kampus sambil menulis sesuatu di atas kertas. Tanpa pikir panjang aku
dengan cepat berlari kearahnya. Dia terkejut dengan kedatangan ku dengan
ekspresi wajah yang susah dijelaskan. Aku langsung to the point dengan dia. “
Kamu. Kamu Alfin kan teman masa kecil ku kan? “. Dia membulatkan matanya dengan raut muka yang
shock. “ Maafkan aku karena baru
mengingat mu, maafkan aku karena telah melupakan mu, maafkan aku yang telah
membuat kamu sedih waktu itu “. Hanya itu yang bisa aku katakan padanya sambil
menangis. Kebetulan keadaan taman sedang sepi. Tiba-tiba dia tersenyum. “ Tidak
apa-apa. Aku masih bersyukur, ternyata kamu masih mengingatku walaupun belum
sepenuhnya kan? “ tanya nya. Aku mengangguk. Dia memeluk ku melepaskan rasa
rindu. Hening diantara kami berdua. Dia melepaskan pelukannya. “ Sebenarnya ini
ide kak Lingga! “ kata nya sambil tertawa. “ Apa kak Lingga yang memberikan
surat ini pada mu? “ tanya nya lagi. “ Tidak. Awalnya aku hanya penasaran
dengan mu. Akhirnya aku ber inisiatif untuk bertanya pada kak Lingga, dan
ternyata dia malah memberikan surat itu “. Jawab ku panjang lebar. “ Oh begitu.
Berarti itu sudah takdir kita untuk bersama. Buktinya sebelum kak Lingga memberikan
surat itu pada mu, kamu sudah menanyakan tentang aku pada kak Lingga hahahah “.
Dia terwata dan juga disambut tertawaan dari ku.
Akhirnya
pagi itu mulailah aku menjalin hubungan dengan Alfin sahabat ku sekaligus cinta
pertama ku.
END
Karya :Saskia Rachmasari
@saskiarachmasa1
Grade : X.1
MAN 22 Jakarta
@saskiarachmasa1
Grade : X.1
MAN 22 Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar