Rabu, 07 Mei 2014

First Love


“SEMANGAATTTT!!!!!” Teriak ku pada diri ku sendiri di pagi yang cerah ini. “Ayo ayo kamu pasti bisa melewati senior galak seperti mereka. FIGHTINGG!!!!”. Teriak ku sekali lagi pada diri ku yang sedang berada di depan cermin sambil merapihkan penampilan ku yang memakai banyak atribut. Sejujurnya aku takut, bukan takut apa-apa, tapi aku takut dipermalukan didepan seluruh calon mahasiswa. Ya, aku sedang mengikuti ospek di Universitas Trisakti. Universitas swasta yang cukup mahal adalah pilihan ku setelah lulus dari SMA. Selagi itu, di Universitas itu juga ada kakak perempuan dan kakak laki-laki ku yang menjadi panitia ospek tahun ini mungkin kalian tahu apa penyebab aku takut saat di ospek kali ini. Aku takut dikerjai oleh kakak kandung ku sendiri. Aku itu sebenarnya tipe gadis yang diam dan cuek dan juga tipe yang periang saat di ospek olehnya di SMP dan SMA, aku tak pernah kena oleh kejailan kakak kelas ku waktu itu. Tapi kali ini aku benar-benar khawatir karena yang meng-ospek ku adalah kakak kandung ku sendiri. Karena aku sudah tahu sifat kakak-kakak ku selama ini dirumah yang selalu menjahili ku.
Tak terasa waktu sudah pukul 6 pagi dan aku masih sangat asik dengan pikiran ku sendiri di depan cermin . “Saraaaa, ayo cepat turun, sarapan dulu. Nanti kamu telat nak!!”. Teriak mama dari ruang makan. “Iya mah, aku turun”. Ucap ku sambil berjalan menuruni tangga. “Loh, papa, kak Sika sama kak Lingga gak ikut sarapan mah??.” Tanya ku pada mamanya yang sedang mengoleskan selai kacang kesukaan ku ke roti. “Kakak kamu sudah jalan sama papa jam 5 subuh tadi. Jadi nanti kamu naik ojek aja ya”. Kata mama sambil memberikan roti pada ku. “Kenapa kakak sama papa pagi banget berangkatnya mah??”. Tanya ku lagi, karena aku masih penasaran dengan keberangkatan kedua kakak ku sepagi itu. “Papa lagi ada klien di kantornya sayang, kalau kakak kamu katanya mereka ada rapat. Tapi mama tidak tahu mereka rapat apa, mereka tadi buru-buru banget. “Jawab mama. “Ooohh….”. Aku hanya ber-oh-ria. Tapi di dalam hati ku, aku masih khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti, dan semoga aku beruntung hari ini. “Kamu cepet dong makannya sayang, jangan kebanyakan melamun. Kesian tuh pak Lana udah nungguin kamu dari jam 6”. Kata mama yang melihat aku diam, tidak memakan rotinya. “Eh, iya mah. Aku makan dijalan aja deh mah. Aku berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum” ucap ku sambil mencium tangan mama dan pergi. “Iya, Wa’alaikum sallam. Hati-hati ya nak.” Aku menoleh dan melambaikan tangan pada mama sambil tersenyum.
Sesampainya di tujuan aku turun dari ojek dan mengucapkan terima kasih kepada pak Lana. Aku  berjalan sambil melihat sekitar. Aku  berdecak kagum, universitas ini sungguh luas dan bersih, banyak pepohonan juga yang tersusun rapi. Saat aku berjalan tiba-tiba,

BBRRUUKK!!

Aku  menabrak seseorang. Dan atribut yang dibawa orang itu jatuh. Tapi aku masih bisa benafas lega yang aku tabrak bukanlah senior, melainkan calon mahasiswa juga. Sama seperti ku. “Eh, maaf.” ucap ku spontan. Bukannya menjawab orang itu malah mengabaikan ku dan terus pergi. “Huh.. jutek banget sih.” Guman ku sendiri. Saat aku berjalan-jalan disekitar kampus, aku menemukan toilet dan aku masuk untuk merapihkan penampilan ku agar tidak berantakan, dengan bando berbentuk telinga kelinci dan ramput di kepang dua. Saat aku sedang merapihkan penampilannya ada dua mahasiswi masuk toilet bersamaan. Dan aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka berdua. “Eh, tadi kamu liat gak, calon mahasiswa disini.” Tanya mahasiswi yang berambut pirang “Yang mana?.” Jawab mahasiswi yang berambut hitam pendek, sambil becermin. “Yang aku senyumin tadi loh.” “Cewe/cowo?.” “Cowo, lah. Ngapain aku senyumin cewe.” Jawab mahasiswi berambut pirang. “Ciri-cirinya?.” “Agak kurus, tinggi, imut, putih, gigi kelinci. Terus apalagi ya?? Ehhmmm.. pokoknya lumayan lah.” Jawab mahasiswi berambut pirang. “Oh, memangnya dia kenapa?.” Tanya mahasiswi berambut hitam pendek. “Tadi kan aku senyumin dia terus dia langsung buang muka gitu aja. Padahal keliatannya dia ramah, mukanya gak ada dingin-dinginya. Eh dia malah buang muka gitu aja.” Jawab mahasiswi yang berambut pirang dengan panjang lebar. “Mungkin dia gak tahu cara tersenyum kali ya, Hahaha.” jawab asal oleh mahasiswi berambut hitam pendek yang di sambung oleh tawaan mahasiswi berambut pirang sambil berjalan keluar toilet. Mendengar percakapan tadi, aku jadi mengingat cowo yang aku tabrak tadi. Tapi aku menggelengkan kepala ku untuk tidak berfikir yang aneh-aneh dan berjalan keluar.
Tak terasa selama aku sedang berjalan-jalan, aku mendengar pengumuman dari speaker “Bagi seluruh peserta calon mahasiswa-mahasiswi harap berkumpul di halaman utama, sekali lagi bagi seluruh perserta calon mahasiswa-mahasiswi harap berkumpul di halam utama, Terima kasih.” Aku masih terdiam. Tiba-tiba ada segerombolan mahasiswa/i lari dari arah belakang ku, saat yang lain pada berlari aku hanya terdiam sambil memikirkan apa yang membuat mereka semua berlari tapi tak lama aku mulai sadar, dan akhirnya aku baru berlari mengikuti yang lain. Aku  memang sedikit lola (loading lama) dan itu menjadi bahan ejekanku di sekolah ku dulu dan dirumah  oleh kakak-kakak ku. Akhirnya semua calon peserta mahasiswa/i sudah berkumpul semuanya di lapangan. Pertama sambuatan dari ketua panitia dan dari wakil panitia. Aku hanya memandang kakak laki-laki ku saja di depan dengan gaya sok cool menurut ku. Tapi bagi peserta mahasiswi yang lainnya mereka berbisik sambil mengagumi kakak laki-laki ku. “Huh, mereka belum tahu saja kak Lingga kalau dirumah berbeda sekali dengan disini.” Cibir ku dalam hati.
Selesai acara sambutan, kini mulailah saatnya acara ritual senior pada juniornya. Apalagi kalau bukan ajang mengerjai junior sebagai balas dendam mereka pada kejadian yang dulu. Aku  disuruh mencari daun-daunan yang berwarna hijau yang di warnai crayon di pohon jambu. Aku  sudah menemukannya, tapi aku tak sampai untuk mengambilnya. Aku  sudah melompat-lompat untuk mengambilnya tapi tak sampai juga. Tidak mungkin kan jika aku harus memanjat pohon ini. Dan mau tidak mau dengan nekat, aku  yang memakai rok harus memanjat pohon ini yang ternyata pohonnya banyak semut. Sampai aku jatuh dan sedikit meringis kesakitan. “Aduhh.. susah banget sih ngambilnya.” Gerutuku kesal. Tiba-tiba ada seorang yang menyodorkan daun yang ingin aku ambil tadi. “Ini daunnya, sebenarnya daun ini sudah jatuh dari tadi.” Kata orang itu. Aku  mengambilnya masih dengan keadaan duduk dan aku tidak bisa melihat orang itu dengan jelas karena silau nya cahaya Matahari. “Iya terima kasih ya.” Dan orang itu mengabaikan ku, tidak membalas ucapan ku tadi. Karena merasa di abaikan, aku yang sedang kesal spontan berteriak “Bisa tidak membalas ucapan seseorang, apakah itu sulit?”. Teriak ku kesal dan sedikit kencang. Ada beberapa mahasiswa/i yang mendengar teriakan ku menoleh padanya tapi aku abaikan karena aku sedang kesal. Seorang itu menoleh dan menjawabnya “Iya, sama-sama. Maaf mengabaikan mu.” Jawab orang itu. Aku terkejut ketika melihat orang itu. Orang itu yang sempat aku tabrak tadi pagi dan akibat perbuatan ku tadi atribut yang di pegang oleh orang itu jatuh. Orang itu berbalik dan melanjutkan jalannya. Aku tidak enak hati dengan cowo itu. Dan lagi-lagi aku asik dengan pikiranku sendiri dan aku teringat kejadian tadi pagi saat aku menabrak orang itu dan mendengar percakapan kedua mahasiswa tadi. Entah mengapa aku selalu teringat tentang orang yang aku tabrak tadi. Sampai aku tak sadar jika kakak senior menegur ku. “Heh, kamu kenapa melamun? Cepat cari daunnya, kalo kamu sudah ketemu cari di pohon manga yang itu daun yang berwarna merah, cepat”. Ujar kakak seniornya itu galak. “Hah? Iya kak”. Jawab ku lemas.
Tak jauh dari tempat lain. Kakak-kakak ku tertawa cekikikan melihat ku di kerjai seperti itu. “ kakak- kakak ada ada aja ide buat ngerjain si jelek itu” kekeh kak Lingga pada  kak Sika yang melihat ku dari kejauhan. “Biarkan saja. Agar dia kuat sedikit, sekali-kali dia perlu dikerjai sedikit. Lagi pula mama terlalu memanjakannya”. Jawab kak Sika panjang yang di balas anggukan oleh kak Lingga. “Abis ini apalagi kak?”. Jawab kak Lingga antusias. “Kamu bisa melihatnya nanti” jawab Sika pendek. “Oh oke kak. Oh iya aku mau ke toilet dulu ya kak, nanti langsung ketemu di aula aja. Bye” ucap Lingga, kemudian pergi meninggalkan kak Sika.
Bererapa lama kemudian semua murid sudah dikumpulkan di ruang aula. Ini adalah penentuan kelompok dari semua mahasiswa/i. “Yang kakak panggilkan kedepan akan menjadi ketua kelompok dan mencari anggotanya masing-masing. Tapi, cewe dengan cewe dan cowo dengan cowo tidak boleh di gabung. Mengerti?”. Tegas ketua panitia di depan. “Mengerti kak!”. Seru semua peserta mengerti. “Oke, kelompok pertama. Muhammad Alfin. Maju!”. Perintah kakak panitia di depan. Tiba-tiba aku teringat sesuatu ketika mendengar nama itu. Seperti pernah mendengar dan tidak asing oleh nama itu. Aku masih asik dengan pikiranku sampai-sampai tidak sadar jika nama ku di panggil dan aku menjadi ketua kelompok yang terkakhir. “Sara Indriani! Cepat ke depan sekarang juga”. Bentak kakak panitia didepan karena kesal tidak ada yang maju dari tadi. “Saya kak!”. Teriak ku spontan dan megundang sedikit tawa peserta yang lain. “DIAMM!!, tidak ada yang lucu. Kamu, cepat maju”. Seketika hening dan aku pun maju kedepan sambil jalan menunduk dan meruntuki kebodohan ku sendiri.
“Kalian yang didepan ikut kak Lina kebelakang panggung, sekarang!”. Perintah ketua panitia. “Ayo semuanya kesini”. Ajak kak Lina. “Kalian akan kakak berikan tugas. Tugasnya adalah kalian semua harus mengenal satu sama lain, tapi cewe dengan cewe dan cowo dengan cowo. Di sini tidak boleh ada yang modus! Paham?”. “Kak, maaf. Maksudnya mengenal satu sama lain itu apa ya?”. Tanya cewe berambut sebahu yang berdiri di samping ku. “Oke, ada pertanyaan. Maksudnya kalian harus mengenal satu sama lain dari kegiatan-kegiatan keseharian pribadi kalian. Misalnya, kamu dan kamu”, tunjuk kak Lina pada ku dan cewe di samping ku. “Kalian harus saling mengetahui tanggal lahir, berat badan, dan tinggi badan satu sama lain. Itu baru contoh dan belum kakak berikan soalnya. Nanti ketika kalian pulang baru kalian bertanya kepada kakak apa saja soalnya. Paham?”. Jawaban kak Lina dibalas anggukan oleh kami semua. “Alfin, mengerti?”. Tanya kak Lina dengan nada sedikit membentak kepada cowo bernama Alfin itu. “Iya, kak”. Jawab cowo bernama Alfin itu. Dan ternyata cowo yang bernama Alfin itu adalah cowo yang aku tabrak tadi pagi dan aku bentak tadi siang. Baiklah, setidaknya aku bisa minta maaf dengannya karena ulah ku tadi pagi dan siang.
Ketika semua peserta sudah pulang, para ketua kelompok mulai mencari kak Lina. Tapi na’as orang yang di cari tidak ketemu. Apa mungkin dia bersembunyi? Semua peserta mulai mengerutu kesal karena kak Lina yang dicari tidak menampakan batang hidungnya. Tiba-tiba seorang cewe yang disampingku mengeluh sakit di bagian perut. “Kamu kenapa?” Aku sedikit panik ketika melihat wajahnya agak pucat. “Maag ku kambuh”. Katanya sambil merintih kesakitan. “Tahan ya, akan aku carikan obat”. Dia hanya mengangguk. Aku segera berlari ke koperasi tapi na’as, koperasi tutup. Aku berlari ke luar kampus ini berharap ada warung yang menjual obat maag. Ketika aku masih bereda dihalaman kampus aku melihat ada cowo yang seragamnya sama dengan yang aku pakai sekarang. Tanpa pikir panjang aku memanggilnya. “ Hey, apakah di luar ada warung? Aku harus membeli obat untuk sakit maag”. Tanya ku panjang lebar agar dia mengerti. Cowo itu menoleh dan anehnya kami berdua sama-sama terkejut. Tapi kemudian dia dengan cepat menjawab pertanyaan ku. “ Sepertinya ada ”. Jawab dia seadanya. “ Oke, terima kasih ”. Jawab ku dengan senyum simpul. Lalu aku berbalik dan berlari dengan cepat. “ Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana? Kenapa dia mirip teman SD ku ya?? Ah, sudah lah lupakan. Aku harus cepat “. Kata ku dalam hati.
Ketika aku kembali semua peserta yang menjadi ketua sudah duduk rapi dan kak Lina sudah datang. “ Kak, maaf aku tadi ke warung sebentar ”. “ Baiklah cepat duduk “ . Ucap kak Lina gusar. Aku duduk di samping cewe yang tadi maag nya kambuh. Kak Lina mulai memberikan kami soal. Cewe yang di samping ku tadi sudah meminum obat yang aku berikan, dan dia mengucapkan terima kasih. Kami semua masih dalam keadaan hening ketika kak Lina izin ke toilet sebentar. Dengan canggung aku menegur cewe di samping ku. Sambil basa basi. “ Hey, bagaimana? Sudah lebih baik? “. Tanya ku ramah. Dia menoleh dan tersenyum. “ Iya, sudah lebih baik. Btw, terima kasih ya. Obat yang kamu berikan manjur sekali ”. jawabnya sambil tersenyum. Aku terkekeh mendengar ucapannya. “ Oh, bagus lah kalo begitu. Nama kamu siapa? Aku Sara Indriani. Kamu bisa manggil Sara saja ”ucap ku padanya. “ Nama ku Yura Yunica. Kamu bisa memanggil ku Yura ”. Jawabnya. Menurut ku dia gadis yang cantik dengan rambut sebahu dan kulit kuning langsat nya. Aku mengobrol panjang lebar dengan Yura. Tak lupa aku meminta nomor handphone nya untuk tugas yang di berikan kak Lina tadi. Saat kami sedang asik mengobrol tiba-tiba kak Lina datang dan keadaan kembali hening kembali. “ Baiklah kalian sebentar lagi akan pulang. Tapi sebelum pulang, kakak akan memilihkan wakil dari kelompok cowo dan kelompok cewe. Gunanya agar  besok kalian lebih mudah jika ingin mengumpulkan bisa melalui wakil. Kakak tidak akan menerima tugas kalian jika kalian tidak mengumpulkan lewat wakil yang akan kakak tentukan ”. Semuanya mengangguk paham. “ Oke, perwakilan dari kelompok cowo kakak memilih, Muhammad Alfin. Dan dari kelompok cewe kakak memilih Sara Indriani “. Kata-kata kak Lina yang terakhir sunggung mengejutkan ku. Percaya tidak percaya. Mengapa aku yang di pilih. Aku dan Alfin saling melempar pandang. Tiba-tiba suara kak Lina menyadarkan kami berdua. “ Ada yang ingin di tanyakan? “. Tanya kak Lina. Kami semua diam, mungkin itu pertanda paham. “ Baiklah, kalian boleh pulang! “. Ucap kak Lina yang langsung pergi meninggalkan kami ditaman kampus.
“ Sara. Mau pulang bareng? “. Ajak Yura pada ku. Yura juga sama seperti ku dia belum mempunyai teman saat hari pertama ospek ini. “ Apa tidak merepotkan? “. Jawab ku pada Yura karena merasa tak enak. “ Sudah lah, lagi pula arah rumah kita sama kok “. Yura menarik tangan ku memasuki mobilnya. Tak lama mobil nya berjalan. Masih dalam keadaan hening antara aku dan Yura, dan tiba-tiba dia memulai pembicaraan. “ Oh iya. Aku mau tanya sesuatu sama kamu “. “ Mau tanya apa? “. “ Apakah sebelumnya kamu sudah mengenal Alfin? Dari tadi aku perhatikan dia sedang mencuri pandang dengan mu. Ya, walaupun kamu tak sadar “. Aku terkejut mendengar perkataan Yura, seketika jantungku berdetak lebih cepat dan ada rasa kekhawatiran dalam hati ku. “ Benarkah? Aku rasa, aku baru bertemu dengannya tadi pagi “. Tanya ku pada Yura. “ Iya, aku dan dia satu SMA. Dan menurut kabar-kabar dari teman ku dia sangat cuek terhadap cewe. Tapi sejak aku perhatikan dia, menolong mu tadi siang dan dia juga memperhatikan mu saat kak Lina memberikan kita tugas tadi. Aku kira kau mengenalnya “. Aku benar-benar terkejut sekarang mendengar perkataan Yura. Dan dia tahu soal kejadian tadi siang? “ Ya Allah ini sungguh memalukan ”. Runtuk ku dalam hati. Aku hanya bisa membalas Yura dengan senyuman tanpa dosa.
Tak terasa aku sudah sampai rumah. Aku turun dan mengucapkan terima kasih kepada Yura. Aku memasuki rumah, dan melihat kedua kakak ku sedang berada diruang TV. “ Assalamu’alaikum “. Salam ku pada mereka. “ Wa’alaikum sallam “. Jawab mereka serempak. “ Sara kamu sudah pulang? Ayo cepat mandi lalu makan malam ya. Mama sudah memasakan makanan kesukaan kamu “. Kata mama yang melihat keadaan ku yang sedikit berantakan dan bau keringat. Aku bergegas masuk kamar lalu mandi.
Saat aku sedang menyisir rambut tiba-tiba aku teringat perkataan Yura tadi. Apa aku pernah bertemu dengan Alfin? Tapi sepertinya tidak. Apa aku pernah bertemu dengan nya tapi aku lupa? Ah, lebih bik aku tanya kakak ku saja siapa tahu mereka tahu. Kata ku yang berbicara dengan diriku sendiri.
Setelah seusai makan aku pergi ke kamar kak Sika untuk bertanya megenai Alfin. Siapa tahu kak Sika tahu. Kata ku pada diri ku sendiri. “ Kak Sika aku masuk ya? “ kata ku membuka pintu kamarnya dan masuk ke kamar kakakku yang bernuansa putih itu. Tanpa basa basi aku langsung bertanya ke intinya. “ Kak, kakak kenal Muhammad Alfin gak? ”. “ Hah? “ Kak Sika menoleh pada ku dengan raut muka sedikit terkejut. “ Sebaiknya kamu tanya dengan Lingga saja, dia yang mengusulkan kamu sama Alfin menjadi ketua kelompok dan wakil dari masing-masing kelompok cowo dan cewe “. Jawab kak Sika. Aku benar-bernar terkejut. Benar firasat ku aku pasti kena oleh kakak ku. Akhirnya aku keluar dari kamar kak Sika dan berjalan ke arah kamar kak Lingga. Aku masih tak habis pikir, mengapa kak Lingga memilih ku dan Alfin menjadi ketua ? ini benar –benar tak masuk akal. Aku mengetuk kamar kak Lingga lalu membuka nya. Aku melihat kak Lingga sedang berkutat denga komputernya. “ Kak Lingga! “. Panggil ku yang mengejutkannya. “ Heh, kamu. Ada apa? “ . kata kak Lingga dengan senyum manis. Aku heran melihat sifatnya yang berbeda. Aku semakin curiga dengan kak Lingga. “ Tidak. Aku hanya mau bertanya tentang anak yang bernama Alfin, kakak mengenalnya? “. Tanya ku to the point. Kak Lingga langsung tersenyum lebar mendengar pertanyaan ku dan kemudian dia berjalan ke lemarinya dan mengambil sebuah album foto. Aku benar-benar bingung dengan tingkah kak Lingga sekarang. Masih hening diantara kita berdua. Dan kak Lingga tiba-tiba membuka album foto. Aku semakin bingung dengan tingkah aneh kak Lingga. Tiba-tiba kak Lingga menyodorkan sebuah foto pada ku. “ Kamu tahu foto siapa ini? “ tanya kak Lingga. Aku menggelengkan kepala ku. Lalu aku memehartikan foto siapa itu. Aku benar-benar tak tahu. “ Itu adalah foto kamu dan Alfin! “ jawab kak Lingga. Aku terkejut ketika kak Lingga berkata seperti itu. Aku? Alfin? Bagaimana mungkin ini terjadi? Bahkan aku tak pernah mengingat masa kecil ku. “ Sebenarnya kamu dan Alfin adalah teman semasa kecil. Waktu itu kalian sangat akrab sekali. Sampai akhirnya ke-akraban kalian terpisah karena kamu mengalami kecelakaan cukup parah yang mengakibatkan kamu amnesia. Kamu benar-benar tak bisa mengingat siapapun. Kamu bagaikan bayi yang baru lahir yang belum tahu apa-apa “. Cerita kak Lingga pada ku. “ Bahkan kami, keluarga kamu sendiri. Butuh waktu berbulan-bulan untuk memperkenalkan diri kepada kamu. Dan pada akhirnya Alfin dan keluarga nya datang untuk menjenguk mu. Tapi kamu malah mengacuhkan Alfin, seperti Alfin menjadi orang asing untuk kamu. Alfin begitu sedih karena sahabat terdekatnya sekaligus cinta pertamanya mengacuhkannya “. Aku shock ketika kak Lingga bercerita seperti itu. Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Jantung ku berdetak kencang dan mata ku mulai berkaca-kaca. Aku mencoba terus mengingat tapi nihil. Aku tidak bisa mengingatnya. “ Padahal saat hari itu adalah hari terakhir Alfin berada di Jakarta dan dia akan pergi ke Jepang, karena ayahnya ada pekerjaan disana. Saat Alfin ingin pergi dia menitipkan surat pada kakak dan dia mengatakan ‘ kak, berikan surat ini kepada Sara jika dia sudah mengingatku ‘. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat kakak memberikan surat ini pada kamu “. Jelas kak Lingga pada ku aku hanya diam. Entah apa yang aku fikirkan. Rasanya aku ingin mengangis detik itu juga. Tapi aku langsung tersenyum dan mengambil surat yang Alfin berikan pada ku melalui kak Lingga. “ Makasih ya kak “. Kata ku pada kak Lingga yang dibalas senyuman oleh.
Ketika aku membuka suratnya yang sudah sedikit menguning dan tinta bulpoint yang sedikit memudar. Tapi masih terbaca jelas oleh ku.

‘ Jakarta, 20 Agustus 2007
Dear Sara Indriani. My First Love     
Sara, aku harap ketika kamu mebaca surat ini aku harap kamu sudah mengenali ku kembali. Aku begitu terpukul ketika mendengar kabar, kalau kamu kecelakaan dan mengalami lupa ingatan yang parah. Dan yang membuat ku sedih, kamu tidak mengingat siapa aku. Aku benar-benar sedih. Padahal hari itu adalah hari perpisahan kita yang lumayan panjang. Aku akan pergi ke Jepang karena ayah ku ada tugas dinas disana. Dan aku berharap bisa bertemu dengan mu lagi suatu saat nanti. Entah kapan. 
Muhammad Alfin’
           
Aku benar-benar tak bisa berkata apa-apa ketika membaca suratnya. Aku harus meminta maaf dengannya. Aku sudah terlalu membuatnya sedih selama ini.
            Esoknya dikampus aku langsung mencari Alfin. Aku harus berbicara dengannya. Aku berlari keliling kampus untuk mencarinnya. Akhirnya aku menemukannya dia sedang berada di bawah pohon maple di taman kampus sambil menulis sesuatu di atas kertas. Tanpa pikir panjang aku dengan cepat berlari kearahnya. Dia terkejut dengan kedatangan ku dengan ekspresi wajah yang susah dijelaskan. Aku langsung to the point dengan dia. “ Kamu. Kamu Alfin kan teman masa kecil ku kan? “. Dia  membulatkan matanya dengan raut muka yang shock. “ Maafkan aku  karena baru mengingat mu, maafkan aku karena telah melupakan mu, maafkan aku yang telah membuat kamu sedih waktu itu “. Hanya itu yang bisa aku katakan padanya sambil menangis. Kebetulan keadaan taman sedang sepi. Tiba-tiba dia tersenyum. “ Tidak apa-apa. Aku masih bersyukur, ternyata kamu masih mengingatku walaupun belum sepenuhnya kan? “ tanya nya. Aku mengangguk. Dia memeluk ku melepaskan rasa rindu. Hening diantara kami berdua. Dia melepaskan pelukannya. “ Sebenarnya ini ide kak Lingga! “ kata nya sambil tertawa. “ Apa kak Lingga yang memberikan surat ini pada mu? “ tanya nya lagi. “ Tidak. Awalnya aku hanya penasaran dengan mu. Akhirnya aku ber inisiatif untuk bertanya pada kak Lingga, dan ternyata dia malah memberikan surat itu “. Jawab ku panjang lebar. “ Oh begitu. Berarti itu sudah takdir kita untuk bersama. Buktinya sebelum kak Lingga memberikan surat itu pada mu, kamu sudah menanyakan tentang aku pada kak Lingga hahahah “. Dia terwata dan juga disambut tertawaan dari ku.
Akhirnya pagi itu mulailah aku menjalin hubungan dengan Alfin sahabat ku sekaligus cinta pertama ku.

END


Karya :Saskia Rachmasari
@saskiarachmasa1
Grade : X.1
MAN 22 Jakarta



Tidak ada komentar:

Posting Komentar