Mengapa
Harus Ada Perpisahan?
Awal aku
mengenalnya, aku tidak ada rasa apapun dengannya, bahkan akupun tidak tahu
kalau dia adalah kakak kelasku sewaktu aku di MTs. Pagi itu, handphone ku
bergetar, menandakan ada sms yang masuk.
“Assalamualaikum, sinta” itu isi sms nya
“waalaikumsalam, ini siapa ya?” Tanya ku
“Ini dedy, kakak kelas kamu waktu di
MTs, inget gak?” ucapnya
“Hmmm… aku lupa ka”
“Inget gak waktu ada acara maulid, dan
penutupannya itu di isi sama penampilan band. Itu yang main drum nya kakak. Inget
ga sin?
“oh, ia ka aku inget”
Singkat cerita,
aku dan dia semakin sering sms-an, dan hubungan kami sebagai teman semakin
akrab. Cukup lama aku mengenalnya lewat sms, dan akhirnya kami pun bertemu, dan
pada saat itu belum ada sedikitpun rasa yang ada di hatiku.
Setelah itu,
kami semakin sering bertemu dan jalan bersama. Dan entah apa yang kurasa, aku
merasakan sebuah rasa yang kini ku rasakan. Ya, rasa cinta mulai tumbuh bersemi
di hatiku. Selama aku kenal dengan ka dedy, aku memerhatikan sikap dan perilakunya.
Dia adalah pria yang dewasa, sopan, baik hati, dan juga lumayan tampan wajahnya
menurutku. Yaaa, cowok idaman aku banget lah, beda sama laki-laki yang ku kenal
sebelumnya.
Saat aku sedang
sakit, tanpa ku duga dia datang ke rumah untuk menjenguk ku. Waaah bahagianya
diriku di jenguk sama orang yang aku suka
“Assalamualaikum” ucapnya memberi salam
“Waalaikumsalam, siapa ya?” Tanya mamaku
yang menerima tamu
“Saya dedy bu, temannya sinta. Saya mau
menjenguk dia bu, sintanya ada?” Tanyanya sambil mencium tangan mama ku
“Oh ia ada tuh di dalem, masuk” ucap
mama ku mempersilahkan masuk.
Ka dedy menghampiriku yang sedang
berbaring di ruang TV, sambil menonton sinetron.
“Sin, gimana keadaannya?” tanyanya
“Masih sama ka kaya tadi, badan aku
masih panas, gk bisa bangun soalnya pusing” jawabku
“udah makan sama minum obat belom sin?”
Tanya nya penuh perhatian
“udah ko’ ka tadi” jawabku tersenyum
Setelah kami
mengobrol, dia mengatakan sesuatu yang tak pernah ku duga. Ya, dia mengatakan
rasa sayangnya pada ku.
“Sin,
Sebenernya di balik pertemanan kita, kaka punya rasa yang lain sin”
“Rasa apa ka? Coklat? Hehe” ucapku
sambil bergurau
“Kaka sayang sama kamu sin, kaka serius.
Sebenernya pengen dari kemaren ngomongnya, tapi gak enak kalo lewat sms.
Sekarang mumpung lagi ada waktu, kaka bilang ke kamu”
“Hmmm….” Hanya itu yang bisa ku katakana
dengan wajah mulai memerah
“Kamu mau gak sin jadi pacar kaka? Kaka
janji bakal jadiin kamu untuk yang terakhir” ucapnya meyakinkan ku
“Jujur ka, aku juga punya rasa kaya
kaka”
“Yaudah sin, gimana? Mau terima kaka gk
sin?" Tanya nya lagi
“Hmmm. Ia ka aku mau” jawabku dengan
malu-malu
Dan mulai hari itu, tepatnya tanggal
11-12-13 kami berstatus pacaran.
Hubungan kami
telah memasuki bulan ke tiga. Semua suka duka, manis pahit, berantem, tertawa,
telah berhasil ku lalui bersama ka dedy.
Di bulan yang ke
tiga ini, aku merasakan hal yang beda dengannya, perhatiannya jauh berkurang.
Ya aku masih bisa menerimanya, karena sedikit lagi dia akan menghadapi UN.
Setelah UN berlalu, dia pun masih saja cuek.
Saking kesalnya,
aku langsung saja menanyakannya
“Ka, kaka kenapa jadi cuek gini sih?
Jujur ka” Tanya ku
“Ga knapa-knapa sin, biasa aja” hanya
itu yang dia ucapkan
Selang
beberapa minggu, kami telah memasuki hari jadi yang ke empat. Aneh rasanya,
biasanya dia selalu mengucapkan “happy annive”, tapi sekarang hp ku sepih gak
ada sms dari ka dedy.
Ku
coba untuk menunggu, sampai tiba puku 10 siang. Tidak ada satupun sms yang
masuk darinya. Segera saja aku sms dia untuk mengucapkan annive, mungkin dia
sedang mengetesku ingat atau tidaknya hari jadi
“Happy annive ya ka, semoga hubungan
kita langgeng, dan janji kaka buat ngejadiin aku yang terakhir dapat terwujud”
itu ucapanku seperti yang ia katakana pada annive sebelumnya
“Ia sin, amin” hanya itu jawabannya
“Dan semoga sifat kaka kaya dulu lagi ya ”
ucapku menambahkan
Tidak ada balasan sms lagi darinya.
Sudah sangat
sabar aku menghadapi sikapnya yang berubah total. Hubungan kami tetap berjalan,
hingga tanggal 24 april. Dan saat ini kesabaran ku sudah benar-benar habis.
Segera saja aku ngomong dengan ka dedy
“Ka, kenapa kaka jadi berubah total ini
sih? Kalo udah gk ada rasa bilang ka, jangan kaya gini!” ucapku kesal.
“Kaka lagi sibuk sin nyari kerjaan”
jawabnya
“Sesibuk-sibuknya kaka jangan ampe cuek
gitu ka! Aku juga perlu kaka perhatiin!”
“bersikap dewasa dikit dong sin”
“Aku udah bersikap dewasa, aku udah
cukup sabar ngadepin sikap kaka. Tapi kakanya yang kebangetan!”
“Tau gitu kaka dari awal milih vidya
sin, bukan kamu!” ucapnya dengan tega
Memang Vidya lah
yang telah mengenaliku dengan ka Dedy, hingga kami berpacaran.
“Tega banget kaka ngomong kaya gitu, aku
punya perasaan ka. Hargain dikit ke’ perasaan aku!” ucapku sambil meneteskan
air mata
“Ia sin kaka salah milih kamu,
seharusnya kaka milih Vidya. Vidya kan yang suka sama kaka dari awal, bukan
kamu”
“Tega banget ka ngomong kaya gitu, jahat
lu ka!” lagi-lagi aku meneteskan air mata
“Yaudah lah sin, mending kita jalanin
masing-masing aja. Anggap aja kaka sebagai kaka kamu sendiri”
“Gk bakalan bisa ka, aku sayang banget
sama kaka :’(, kenapa mesti putus ka? Mana janji kaka awal kita pacaran? Kaka
mau ngejadiin aku yang terakhir. Mana ka mana buktinya? Apa ini buktinya? Apa
ini yang namanya bersikap dewasa?" ucapku dengan air mata di pipi
“Yaudah sin, silahturahmi gk mungkin
putus. Keluarga kamu udah kaka anggap keluarga kaka sendiri. Dan kamu kaka
anggep adek kaka”
“Jahat lu ka! Lu sama aja kaya laki-laki
laen! Omongan lu jambu ka, janji busuk!” ucapku kesal
Di tanggal 24
april inilah hubungan kami berakhir, berakhir dengan air mata di pipiku. Rasa
sayang ku selama ini hanya di balas dengan perkataannya yang membuatku sakit
hati.
“Ya Allah, kenapa harus ada perpisahan
di hubungan ku ini ya allah? Aku udah sayang padanya” ucapku setiap kali ku
berdoa.
Setelah putus,
aku jadi tidak bersemangat untuk melalukan apapun, sampai makan pun aku lupa.
Saat aku di sekolah, aku kembali mengingatnya. Bagaimana aku bisa lupa begitu
saja? Dia yang telah banyak mengajarkanku arti kedewasaan, dia juga yang telah
mengajariku agar jangan lupa sholat.
Tanpa ku sadari,
air mata pun kembali membasahi pipiku. Salah satu temanku melihat ku menangis
dan bertanya pada ku
“sin lu kenapa? Ko’ nangis? Ayo sin
curhat aja sama gue” Tanya sabil
“Gue putus bil sama dedy, padahal gue
udah sayang banget sama dia” jawabku sambil menangis
“Ya allah sin, ko’ bisa sih?” Tanya nya
penasaran
“Ga tau dah bil, bingung. Gak semangat
bil gue buat ngapa-ngapain” jawabku
“udah ya sin sabar, cowo bukan Cuma dia
doang ko’. Semoga lu dapet yang lebih dari dedy. Jangan patah semangat karna
cowo sin, udah jangan nangis” sabil menasihatiku sambil menghapus air mataku
“Udah ya sin, lu harus move on ya sin.
Semangat!” ucap sabil menyemangatiku
“Ia bil, makasih ya udah ngasih support
buat gue ”
Mulai sekarang,
aku akan lebih waspada dalam memilih cinta, dan kejadian ini akan ku jadikan
pelajaran yang sangat berharga. Ada satu kata yang membuat ku semangat lagi
“Jangan patah semangat karna putus cinta”. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa.
Terimakasih ini karya temanku..
Yasinta Febriani
@yasintafebriani
X.1
MAN 22 Jakarta
MAN 22 Jakarta